Flora

Benalu, Parasit yang Berkhasiat

Tidak ada satupun yang sia-sia tercipta di muka bumi ini. Jika ada istilah sampah masyarakat, itu sesungguhnya hanya sebuah terminologi untuk manusia-manusia yang tidak menggunakan akal dan dirinya untuk berdaya guna untuk orang lain. Namun, bukan sampah masyarakat yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan tentang tumbuhan yang selama ini sering dianggap sebelah mata karena hidupnya yang hanya menumpang pada tumbuhan lain. Semua pasti tahu tumbuhan Benalu.

Benalu bernama latin Loranthus Spech.div. Di kalangan orang-orang Jawa terkenal dengan sebutan Kemladean, sementara di Sumatra biasa dikenal dengan sebutan Pasilan. Meskipun penyebutannya berbeda, namun secara jenis tumbuhan sama.

Ciri-ciri umum tumbuhan yaitu parasit, menempel pada tumbuhan lain dan menyerap saripati makanan serta mineral pada tumbuhan yang ditumpanginya hingga tumbuhan tersebut mati. Bunganya berkelamin tunggal, biji dan buahnya mengandung getah. Perkembangbiakannya melalui binatang atau burung yang memakan biji buah Benalu.

Tumbuhan ini sekilas jika dilihat dari ciri-ciri umumnya akan sangat mengganggu kehidupan makhluk lainnya, terlebih tumbuhan-tumbuhan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Namun, siapa yang mengira bahwa ternyata tumbuhan menyebalkan ini memiliki khasiat tersendiri, yaitu sebagai antikanker, obat amandel, dan obat campak.

Benalu yang hidup pada tumbuhan teh (Camellia sinensis) dapat digunakan sebagai obat antikanker, sementara Benalu yang hidup pada tanaman jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dapat digunakan sebagai ramuan obat penyakit amandel. Benalu pada umumnya bisa digunakan untuk mengobati penyakit campak. Akan tetapi, kajian secara ilmiah terhadap teori ini masih belum dilakukan.

Meskipun penelitian lebih lanjut terhadap masalah ini belum seberapa banyak, tetapi sekarang minimal kita tidak lagi memandang sebelah mata pada tumbuhan ini. Tumbuhan parasit pun ternyata membawa manfaat bagi manusia jika manusia benar-benar mau berpikir dan mengambil pelajaran darinya.

Sumber:

Redaksi Agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. 431 Jenis Tanaman Penggempur Aneka Penyakit. Jakarta: Agromedia Pustaka

Flora

Durian, Si Raja Buah

Durian, buah dengan segudang pesona yang ditawarkan, dari aromanya hingga rasanya. Buah yang masyhur dengan sebutan buah surga ini menduduki peringkat pertama di kerajaan buah-buahan. Bagi anda penggemar buah durian, tak sungkan-sungkan mengacungkan 4 jempolnya. Buah yang identik dengan duri ini, pada umumnya memiliki ukuran sebesar buah semangka atau buah melon, tapi pernahkah anda melihat yang berukuran sebesar buah rambutan?. Penasaran bukan?

Durian seukuran buah rambutan, sangat kecil bukan, untuk ukuran buah durian pada umumnya. Durian yang banyak dijumpai di daerah aliran Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai, Kalimantan timur ini merupakan durian yang langka. Tumbuhan yang senang tumbuh di lereng bukit hutan meranti yang banyak air, pada ketinggian 50-100 m dpl. Pohonnya bertajuk rindang, bercabang dan berdaun lebat.

Sebut saja dia durian burung (Durio lanceolatus), merupakan buah durian yang seukuran buah rambutan yang berbentuk bulat dengan duri yang tajam dan kaku. Warna buah durian ini berwarna merah pada saat dia masih muda dan menjadi coklat setelah tua. Daging buah durian ini juga berwarna merah dengan biji yang sebesar kedelai berbentuk bulat dan berwarna hitam. Berbeda dengan durian pada umumnya, durian mini ini susah di kupas saat sudah matang.

Selain Durio lanceolatus, terdapat yang sedikit lebih besar yaitu sebesar buah markisa. Dengan tinggi pohon mencapai 29m Durio acutifolius memiliki buah berbentuk lonjong dengan panjang 35 mm dengan duri yang tumpul dan lunak. Warna buah mudanya berwarna hijau, setelah tua berwarna hijau kekuning-kuningan. Daging buahnya berwarna merah, bijinya sebesar kacang tanah, berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buah masak pecah di atas pohon.

Buah durian ini aman untuk dimakan (edible), tapi tidak begitu banyak diminati karena daging buahnya yang tipis dan rasanya yang tawar dan tidak beraroma. Yang menyukai buah ini hanya burung dan kera.

Sumber: Trubus, majalah pertanian